Selasa, 17 Desember 2019

Pilkada Sulut dalam Aroma Like and Dislike

MEMASUKI tahun politik 2020 di Sulawesi Utara, aroma 'like and dislike' mulai tercium. Pihak yang ounya pilihan figur lain, kerap menyudutkan figur tertentu.

Menjadi sedikit aneh, 'kegemaran' menyudutkan itu, malah mengabaikan keharusan mempromosikan figur yang didukungnya.

Grup - grup publik di media sosial, terutama Facebook ramai dengan postingan, baik pribadi maupun share postingan milik orang lain yang isinya, yah itu tadi, menyudutkan figur tertentu.

Kebebasan berekspresi lantas menjadi tameng jika ada bantahan dan sanggahan.

Kalaupun tak mampu beradu argumen, kata - kata kasar, pun tak santun langsung dijadikan sebagai senjata yang mengusir lawan diskusi.

Dengan demikian, disksusi seputar like and dislike bukan lagi ajang menemukan kebijaksanaan, tapi diadakan guna merobek jala kebijaksanaan.
Tidakkah sangat mengesankan, jika setiap individu menampilkan diri sebagaimana yang ditampilkan sosok Socrates, guru dari filsuf hebat Plato.

Socrates dikenal sangat piawai dalam berdiskusi dan beradu argumen. Namun tak sekalipun ia berusaha menyeret ruang diskusi ke dalam 'lumpur, karena yang selalu jadi targetnya, memahami arti kebenaran dan kebijaksanaan dalam hidup.

Maka dalam kemampuan personanya, ia tak pernah mengusung tema like and dislike dalam beradu argumen.

Kita seharusnya belajar dari sang maestro Socrates agar apapun yang tersirat dalam memori, sebelum menjelma menjadi rangkaian kata, bermuatkan nilai kebijaksanaan.

Pilkada Sulut dalam Aroma Like and Dislike

MEMASUKI tahun politik 2020 di Sulawesi Utara, aroma 'like and dislike' mulai tercium. Pihak yang ounya pilihan figur lain, kera...